Category Archives: Internasional

Duka rakyat Korea Utara atas wafatnya Kim Jong-il

Banyak orang yang menangis di jalan-jalan ibukota, Pyong-yang. Media resmi mengatakan Kim Jong-il mengalami serangan jantung hari Sabtu (17/12) dan meninggal pada usia 69 tahun.

Kantor berita resmi KCNA menggambarkan salah seorang putranya, Kim Jong-un sebagai “sang penerus besar” yang harus didukung oleh seluruh rakyat Korea Utara.

Negara tetangga Pyong-yang waspada karena khawatir terjadinya ketidakstabilan menyusul wafatnya Kim Jong-il.

Korea Selatan menempatkan pasukannya dalam keadaan siaga penuh dan mengatakan negara tetangga itu dalam keadaan krisis.

Pemerintah Jepang mengadakan pertemuan keamanan khusus.

Cina, salah satu sekutu terdekat Korea Utara dan juga mitra dagang, menyatakan terkejut atas kematian Kim dan berjanji akan melanjutkan upaya “memberikan kontribusi aktif untuk perdamaian dan stabilitas di semenanjung Korea dan di kawasan ini.”

Resolusi mengecam HAM Korea Utara

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mengatakan setelah bertemu dengan mitranya dari Jepang Koichiro Gemba, ia berharap akan ada transisi yang stabil dan damai di Korea Utara.

“Kami mengulangi lagi harapan kami atas membaiknya hubungan dengan rakyat Korea Utara dan tetap sangat khawatir atas kesejahteraan mereka,” kata Nyonya Clinton.

Korea Utara dan Korea Selatan secara teknis masih perang dan Amerika memiliki ribuan pasukan yang ditempatkan di Korea Selatan dan jepang.

Hillary Clinton mengatakan Amerika Serikat dan Jepang menginginkan transisi stabil di Korea Utara.

Wartawan diplomatik BBC James Robbins mengatakan kematian mendadak Kim Jong-il -sebelum rezim itu menyelesaikan transfer kekuasaan kepada putra bungsu Kim Jong-un- menyebabkan ketidakpastian di semenanjung itu.

Sementara itu, Majelis Umum PBB secara bulat mendukung resolusi berisi kecaman atas pelanggaran hak asasi di Korea Utara.

Pemungutan suara, yang dijadwalkan sebelum kematian Kim diumumkan, menyerukan diakhirinya “pelanggaran meluas dan sistematik.” Korea Utara menolak resolusi itu.

AS desak Korut ambil ‘jalur damai’

Amerika Serikat mendesak Korea Utara untuk menempuh “jalur damai” menyusul kematian pemimpin Korea Utara, Kim Jong-il.

Menteri Luar Negeri Hillary Clinton mengatakan Amerika siap untuk membantu rakyat Korea Utara dan menciptakan keamanan di Semenanjung Korea.

“Harapan kami adalah pemimpin baru Korea Utara akan memilih jalur damai dengan menghargai komitmen Korea Utara untuk meningkatkan hubungan dengan negara-negara tetangga, dan menghormati hak-hak rakyat,” kata Nyonya Clinton dalam satu pernyataan.

“Amerika Serikat siap membantu rakyat Korea Utara dan mendesak pemimpin baru untuk bekerja sama dengan masyarakat internasional menciptakan era baru dengan perdamaian, kesejahteraan dan keamanan di Semenanjung Korea.”

Kim Jong-il meninggal Sabtu lalu (17/12) karena serangan jantung, menurut media resmi.

Presiden Barack Obama berjanji untuk tetap membela negara-negara sekutu di kawasan.

Presiden Obama telah mengadakan pembicaraan dengan pemimpin Korea Selatan dan Jepang terkait kematian Kim Jong-il.

Militer siaga

Dalam pembicaraan dengan Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda ia “menekankan komitmen” Amerika Seriakt untuk membela sekutu dekat Amerika termasuk Jepang, kata Gedung Putih dalam satu pernyataan.

Sementara itu Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta berbicara dengan mitranya dari Korea Selatan hari Selasa (20/12).

Kedua belah pihak sepakat untuk berkoordinasi, lapor kantor berita Yonhap.

Militer Korea Selatan disiagakan setelah pengumuman meninggalnya Kim Jong-il.

Sementara itu, Presiden Cina Hu Jintao berkunjung ke kedutaan Korea Utara di Beijing dan menyatakan belasungkawa, kata kantor berita Xinhua.

Senin malam (19/12), menteri luar negeri Cina juga telah bertemu dengan utusan Korea Utara di Beijing, menurut kantor berita itu.

Peralihan kekuasaan

Televisi pemerintah menayangkan rakyat Korea Utara mengantre melewati peti jenazah Kim Jong-il di Pyongyang.

Masa berkabung ditetapkan di Korea Utara atas meninggalnya Kim Jong-il yang akan dimakamkan tanggal 28 Desember.

Tayangan di Pyongyang menunjukkan warga Korea Utara meratapi mangkatnya pemimpin mereka.

Peralihan kepemimpinan belum selesai dan kematian Kim dikhawatirkan dapat memicu ketidakstabilan di negara itu.

Media resmi menyebutkan Kim Jong-un, putra bungsunya, berada di sisi peti jenazah ayahnya hari Selasa (20/12).

w � au��$ X�” ara akan memilih jalur damai dengan menghargai komitmen Korea Utara untuk meningkatkan hubungan dengan negara-negara tetangga, dan menghormati hak-hak rakyat,” kata Nyonya Clinton dalam satu pernyataan.

 

“Amerika Serikat siap membantu rakyat Korea Utara dan mendesak pemimpin baru untuk bekerja sama dengan masyarakat internasional menciptakan era baru dengan perdamaian, kesejahteraan dan keamanan di Semenanjung Korea.”

Kim Jong-il meninggal Sabtu lalu (17/12) karena serangan jantung, menurut media resmi.

Presiden Barack Obama berjanji untuk tetap membela negara-negara sekutu di kawasan.

Presiden Obama telah mengadakan pembicaraan dengan pemimpin Korea Selatan dan Jepang terkait kematian Kim Jong-il.

sumber: bbc.co.uk

Kematian Kim Jong-il yang Membuat Cemas dan Takut

Jakarta – Berita mengejutkan datang dari Korea Utara pada 17 Desember, saat pemerintah Korut mengumumkan Kim Jong-il penguasa eksentrik dan otoriter dari Korea Utara meninggal dunia pada 17 Desember 2011 pukul 08.30 pagi di dalam kereta api. Penyebab kematiannya diperkirakan karena serangan jantung. Berita kematian putra Kim Il-sung ini selama 48 jam dirahasiakan, dan bahkan pemerintah Korea Selatan dan AS juga tidak mengetahuinya.

Rahasia negara tersebut dipegang erat oleh pejabat dan masyarakatnya, hingga para analis bahkan menyebutkan inilah sebuah bukti kegagalan intelijen Asia dan Amerika dalam memonitor perkembangan di Korea Utara. Korea Utara mampu menutup rahasianya dan bahkan pengayaan uranium selama satu setengah tahun-pun tidak termonitor dengan benar oleh badan intelijen mana pun.

Program nuklirnya baru terkuak pada tahun 2010. Bahkan bantuan Korea Utara dalam program nuklir Suriah juga tidak termonitor oleh CIA, badan intelijen Amerika Serikat. Di mana suatu hari Meir Dagan, kepala Mossad (Dinas intelijen Israel), mengunjungi Presiden George W Bush serta penasihat keamanan nasional, dimana dia dengan marah menjatuhkan foto-foto reaktor Suriah di atas meja. Reaktor Suriah tersebut kemudian berhasil dihancurkan oleh Israel dalam sebuah serangan udara pada tahun 2007.

Kim Jong-il di negaranya dipanggil sebagai pemimpin tercinta (dear leader), walaupun dia selama ini memerintah dengan tangan besi. Dia disebut mengesampingkan dan tidak peduli dengan kelaparan, lebih fokus dan mengutamakan program nuklirnya. Kematiannya yang diumumkan setelah dua hari berlalu nampaknya menunjukkan bahwa proses alih kepemimpinan atau proses transisi merupakan suatu hal yang sangat berbahaya di Korea Utara. Beberapa pihak di Korea Utara itu sendiri juga menjadi khawatir.

Beberapa jam setelah pengumuman tersebut, Partai Pekerja yang berkuasa serta lembaga negara lainnya mengeluarkan pernyataan bersama yang menetapkan bahwa generasi Kim yang dipilih menggantikan Kil Jong-il adalah putra bungsunya, Kim Jong Un. Anak kelimanya ini telah lama dipersiapkan oleh ayahnya sebagai generasi penerus. Kim Jong-il mempunyai lima anak, dimana Kim Jong Un adalah anak bungsu.

Kedua kakak laki-lakinya tidak terpilih karena dicap sebagai playboy malas. Oleh ayahnya Kim Jong Un disebut sebagai ‘penerus besar untuk revolusi’. Pada bulan September 2010 Kim Jong-il diberi pangkat Jenderal bintang empat dan diberi jabatan sebagai wakil ketua Komisi Militer Pusat Partai Pekerja, yang langsung diawasi oleh ayahnya. Pada bulan Februari 2011, ia diberi posisi senior di Komisi Pertahanan Nasional, sebagai badan negara yang paling kuat.

Para penguasa di Korea Utara nampaknya kini tidak mempunyai pilihan lain, kecuali menerima suksesi, dibandingkan resiko terjadinya perpecahan. Mereka sadar bahwa Kim muda sangat rentan dalam memegang kekuasaan, dia mempunyai tugas berat dalam menangani kesulitan perekonomian negara yang demikian parah. Para pejabat intelijen di Korea Selatan dan Washington yang berhasil mengumpulkan data intelijen biografi Kim Jong Un, menggambarkannya, Kim muda sebagai seorang pemuda dengan tinggi badan sedang, agak kelebihan berat badan dan rentan terhadap tekanan darah tinggi serta menderita diabetes. Data intelijen terpenting menonjol adalah sifat dan karakternya yang sangat mirip dengan ayahnya. Tegas, kejam dan keras.

Kematian Kim Jong-il telah membuat negara-negara di kawasan Asia Pasifik menjadi resah dan khawatir. Yang dikhawatirkan adalah terjadinya instabilitas politik, kemungkinan terjadinya perebutan kekuasaan. Banyak yang meyakini Kim Jong -un yang baru berusia 20 tahun akan menghadapi kondisi ketidak pastian besar. Tantangan terberatnya adalah menghadapi kondisi serba kekurangan kronis yang dapat menyebabkan keruntuhan total negara.

Tampaknya dengan sering sakit dan menderita serangan stroke, Kim Jong-il telah jauh hari mempersiapkan anaknya itu. Kim Yeon-su, Professor dari Universitas Pertahanan Nasional Korea Utara mengatakan, “Kim Jong-il used the years after his stroke to build a consensus among the elite that his son would be the face of North Korea after he was gone,” katanya.

Kim Jong Un kini tampil dengan penampilan gaya seorang pemimpin besar Korea Utara. Ciri khas performance-nya, pipi montok berisi, rambut yang dipotong pendek, dengan tatapan matanya yang keras. Kim Jong Un terlihat sangat mirip dengan kakeknya Kim Il-sung, pendiri Korea Utara, yang masih sangat dihormati di Korea Utara sebagai dewa.

Kini masyarakat di luar Korea Utara tidak ada yang tahu kondisi terakhir. Pemakaman Kim Jong-il merupakan ujian pertama terkait dengan stabilitas keamanan dan politik, apakah Kim Jong Un diterima atau ditolak sebagai generasi ketiga penerus dinasti Kim. Belum jelas apakah militer akan menerima suksesi tersebut. Melihat dari kasus setelah meninggalnya Kim Il-sung pada tahun 1994, Kim Jong-il membutuhkan waktu tiga tahun sebelum resmi dia mampu mengambil alih kendali pemerintahan.

Para pejabat Korea Selatan merasa khawatir karena sebelum pengumuman kematian Kim Jong-il, diketahui bahwa Korea Utara melakukan pemeriksaan dan pengujian rudal jarak pendeknya pada pagi hari, demikian intelijen Korea Selatan melaporkan. Di Korea Selatan, yang langsung berbatasan dengan Korea Utara dan kini militernya memiliki senjata nuklir jarak menengah, kewaspadaan terus ditingkatkan.

Presiden Lee Myung-bak menyerukan warganya yang resah untuk tenang dan agar hidup seperti biasanya. Presiden Lee dilaporkan telah melakukan pembicaraan dengan di Washington dan Tokyo sebagai pemerintahan Obama tentang perkembangan situasi dan pentingnya stabilitas kawasan. Sementara Gedung Putih mengeluarkan pernyataan, “Kami tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas di Semenanjung Korea dan menjaga kebebasan serta keamanan sekutu-sekutu kami.”

Negara lain yang turut berkepentingan adalah Rusia dan China. Bloomberg News mengutip berita dari kantor kepresidenan Korea Selatan yang mengatakan bahwa Presiden Lee dan rekan Rusia-nya, Dimitri Medvedev A, sepakat untuk bekerja sama bagi perdamaian dan stabilitas di semenanjung Korea setelah kematian Kim Jong-il.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Ma Zhaoxu, mengatakan “China dan Korea Utara akan berusaha bersama untuk terus membuat kontribusi positif dalam mengkonsolidasikan dan mengembangkan persahabatan tradisional antara kedua pihak, pemerintah dan masyarakat dan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas semenanjung Korea dan kawasan.”

Kepala Sekretaris Kabinet Osamu Fujimura, Jepang mengatakan pada konferensi pers, “Perdana Menteri Noda mengatakan dalam rapat para anggota keamanan untuk memperkuat upaya pengumpulan-informasi, bekerja sama dan berbagi informasi dengan negara-negara yang relevan termasuk Amerika Serikat, Korea Selatan dan China, dan untuk mempersiapkan suatu keadaan yang tak terduga. Pemerintah berharap untukdapat mengambil tindakan yang tepat sesuai kebutuhan.”

Nah itulah perkembangan situasi setelah meninggalnya Kim Jong-il, yang mampu memegang Korea Utara penuh dalam genggamannya selama berkuasa. Kini kondisi dapat dikatakan rawan, karena suksesi yang terjadi adalah suksesi bak raja, diktator yang mengedepankan rezim. Yang dikhawatirkan banyak negara adalah rasa khawatir karena militer Korea Utara menguasai peluru kendali berkepala nuklir dan belum jelas posisinya keberpihakannya hingga kini. Sehingga apabila terjadi instabilitas politik dan keamanan, bukan tidak mungkin yang akan menjadi korban pertama adalah Korea Selatan yang akan menerima serangan nuklir pertama.

Masyarakat internasional paham betapa bahayanya apabila terjadi serangan nuklir. Senjata pamungkas ditangan mereka yang tidak benar dan emosional memang patuh kita cemaskan. Semoga saja tidak demikian.

sumber: detiknews.com

China Mengetahui Lebih Dulu Soal Kematian Kim Jong-il

Seoul – China yang merupakan sekutu dekat Korea Utara (Korut) rupanya telah menerima kabar kematian Kim Jong-il lebih dulu. Duta Besar China untuk Korut disebut-sebut mendapat informasi intelijen soal meninggalnya Kim Jong-il pada Sabtu (17/12), atau dua hari sebelum pengumuman resmi dari pemerintah Korut.

Demikian seperti dilaporkan oleh surat kabar Korea Selatan (Korsel), JoongAng Ilbo dan dilansir oleh Reuters, Rabu (21/12/2011). JoongAng Ilbo sendiri menyebut informasi ini didapat dari sumber yang enggan disebut identitasnya.

Menurut sumber tersebut, Dubes China untuk Korut langsung melaporkan kepada pemerintah pusat di Beijing sesaat setelah mendapatkan informasi tersebut.

“Korea Utara memberitahukan kematian Kim kepada China melalui channel diplomatik pada hari itu juga,” ujar sumber tersebut.

Pada Selasa (20/12) kemarin, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Korsel memberikan pernyataan berbeda. Menurut juru bicara Kemlu Korsel Cho Byung-jae, China sama sekali tidak mengetahui kematian Kim Jong-il sebelum pengumuman resmi dari Korut.

Intelijen dan militer Korsel mendapat kritikan karena gagal mendapat informasi meninggalnya Kim Jong-il sebelum pengumuman resmi dari pemerintah Korut.

Kepala Badan Intelijen Nasional Korsel, Won Sei-hoon mengatakan kepada parlemen soal adanya kemungkinan China telah mendeteksi sinyalemen tersebut lebih awal, namun mereka tidak memverifikasinya lebih lanjut.

Terhadap hal ini, pemerintah China sendiri belum memberi tanggapan. Namun, sebelumnya pada tahun 2006 silam, pernah terjadi di mana pemerintah China mendapatkan pemberitahuan terlebih dahulu saat Korut hendak melakukan uji coba nuklir pertama kali. China telah mengetahui hal tersebut sekitar 20 menit sebelum uji coba dilaksanakan.

Pemimpin Korut, Kim Jong-il meninggal dunia pada 17 Desember karena terkena serangan jantung saat di dalam kereta. Namun, pemerintah Korut baru mengumumkan hal tersebut secara resmi pada 19 Desember. Sehari sebelumnya, yakni pada 18 Desember, telah dilakukan otopsi terhadap jasad Kim Jong-il untuk menyelidiki penyebab kematiannya. Dijadwalkan, upacara pemakaman Kim Jong-il akan digelar pada 28 Desember mendatang.

sumber: detiknews.com